
Ibu
Blitar, pada suatu sore …
Suasana hening dan sunyi ketika ia berlutut dan mendekap wajahnya di atas pangkuan sang ibunda.
“Ibu, alangkah malang nasibku”.
Ucapan seorang putra begitu cukup menggetarkan hati seorang ibu. Ucapan itu mengandung suatu harapan dari dirinya. Harapan itu, tiada lain, hanyalah doa dan restu bagi kebahagiaan putranya. Dari suara putranya, sang Ibu merasa ada kegetiran, nasib yang tiada beruntung dan seakan-akan putus asa.
Ia terhenyak diam. Agak lama. Perlahan-lahan dengan kedua tangannya mengangkat wajah putranya yang tercinta. Wajah itu begitu pucat. Tampak dari sorotan matanya penanggungan duka yang sangat besar.
“Oh, anakku, anakku,” seraya memeluk sang putra, ia melanjutkan, “kenapa anakku, kau kenapa…?”
Suasana kembali hening. Waktu seakan mundur sampai pada penghidupan keluarga itu seperempat abad yang lalu.
***
Tulungagung …
Oh, menyebut nama kota itu, kita akan teringat pula pada masa kanak-kanak kehidupannya Soekarno. Ketika ia masih bertelanjang berlari-lari dengan kawan-kawannya, di Desa Kepatihan, atau di Desa Bago, memburu belalang, menangkap capung, mandi di sungai, menunggang kerbau, memanjat pohon.
Masa itu Soekarno pernah dikenal sebagai pemanjat jempolan. Berani memanjat pohon-pohon yang tinggi, sedang kawan-kawannya hanya memandang ketakutan. Tak ada yang berani seperti dia.
Dengan begitu, apakah dia seorang anak yang ugal-ugalan?
Betul, dimana-mana diantara kawan-kawannya ia yang menjadi jagonya, memerintah, dan mengepalai, sementara semua anak-anak yang lain tunduk kepadanya.
Anak-anak desa itu, rupanya bukan sekadar tunduk lantaran takut. Mereka mencintai dan menyukainya.
Dari pembawaannya sejak lahir, Soekarno rupanya sudah memiliki pengaruh menarik dan berwibawa. Jadi bukan baru sekarang saja ia dicintai orang, tetapi sudah sejak muda, bahkan sejak kanak-kanak.
Orang yang memperhatikan, tentu masih ingat pada masa kecilnya, kira-kira tahun 1904, ketika sekawanan anak desa di Plosokandang menciptakan permainan hartonto. Salah seorang berperan menjadi raksasa, tinggi, besar, karena sekujur tubuhnya dibungkus dengan jerami kering yang diikat dengan tali kadebong pisang. Ramainya bukan main. Siapa yang menciptakan itu, siapa yang mempunyai pikiran demikian? Tak lain lagi, kalau bukan Koesno Soekarno, yang baru berusia 3 tahun.
Kendati mukanya belerang-belerong hitam belepotan hangusnya jelaga serupa dengan anak-anak lain, tapi sepintas saja orang lantas tahu, bahwa Soekarno bukan anak sembarangan. Matanya luar biasa. Berkedip-kedip dengan penuh daya tarik yang kekuatannya sangat luar biasa.
“Matamu serupa kucing candramawa, “ kata mbahnya sewaktu-waktu.
“Tidak, saya Bima,” jawab Karno yang lantas mengangkat dada dengan wajah yang serius, membuat mbahnya tertawa terpingkel-pingkel. Tak usah heran kalau Soekarno menjadi begitu bengal, karena ia sangat dimanjakan kakeknya. Kalau cucu-cucunya yang lain memakai kuncung di kepalanya sebagaimana anak-anak desa, hanya Karno yang tidak. Kepalanya dicukur gundul. Alasan sang kakek, karena Karno berbeda dengan lainnya.
Semua orang di Tulungagung pada masa itu tahu persis, siapa itu Raden Hardjodikromo. Ia itu seorang alim yang sudah tenang batinnya. Ia memiliki delapan anak, empat lelaki dan empat perempuan.
Raden Hardjodikromo bukanlah seorang yang terbilang mampu, tetapi ia sangat dijunjung tinggi oleh penduduk di sekitar situ, lantaran pribadinya yang pantas dihormati. Sifatnya gemar sekali menolong sesama manusia. Tentu saja tidak dengan uang, sebab ia tidak punya, tetapi dengan nasihat dan petunjuk-petunjuk yang bijak. Sebagai seorang yang menekuni ilmu kebatinan, Hardjodikromo bisa menyembuhkan orang sakit dengan doa-doanya saja. Walau begitu, ia sama sekali bukanlah dukun yang tersohor kemana-mana, karena apa yang dilakukannya hanya untuk orang di sekitarnya saja.
Kenapa Soekarno dikirim ke Tulungagung?
Terus terang, penghidupan ayahnya yang ketika itu pindah menjadi guru di Surebaya, berada jauh dari kecukupan. Biaya hidup di kota besar begitu tinggi, sedang gaji ayahnya cuma f.27,50.
Ketika baru datang ke rumah kakeknya, badan Soekarno kurus, lemah, dan sakit-sakitan. Tapi begitu disuwuk (diobati) oleh sang kakek, Soekarno lantas menjadi sehat dan segar sekali.
Seperti sudah dijelaskan, Soekarno terlalu dimanjakan, bukan cuma oleh kakeknya, tetapi juga oleh neneknya. Maka tak heran kalau ia menjadi bandel keliwat amat.
Hanya Soekarno saja yang boleh minum sisa kopinya sang kakek, padahal cangkirnya saja tiada seorang pun yang berani menyentuhnya.
Bukan itu saja. Tiada seorang pun berani mengomel kalau Soekarno disusul dan tidak mau pulang dari tempat orang nanggap wayang kulit. Kegemaran akan wayang sangatlah besar. Ia bukan sekadar menonton begitu saja seperti anak-anak seusianya yang lebih banyak mengantuk, rebahan dan tertidur di samping kotak. Soekarno kecil melihat dengan penuh perhatian, tidak tidur sampai pagi, kendati ketika itu usianya masih berkisar lima dan enam tahun.
Rupanya Soekarno kecil dalam pewayangan paling mengagumi perwatakan Sang Bima atau Werkudara, yang dilukiskan sebagai tonggaknya keadilan dan kebenaran. Untuk membela kebenaran dan memberi keadilan, kendati anaknya sendiri pun kalau terbukti bersalah dijatuhi hukuman mati, sebaliknya kalau benar kendati berhadapan dengan dewa pun ia tidak takut.
Penokohan terhadap sang Bima mempengaruhi watak Soekarno kecil sampai beranjak dewasa. Nampak jelas pada kemudian hari, apabila Soekarno berpidato di hadapan massa, sering ia mencuplik contoh-contoh dari lelakon wayang purwa. Begitu pula, karakter Bima yang sejak kecil menjadi pujaannya nampak dalam tutur kata Soekarno yang selalu berbicara apa adanya kepada siapapun tanpa tedeng aling-aling.
Ketika usianya sudah enam tahun sang kakek Hardjodikromo memasukkannya ke sekolah desa di Tulungagung. Inilah sekolah pertama yang memberi pelajarn baca tulis kepada Soekarno. Sekolah desa ini sedikitnya boleh marasa bangga, bahwa satu tokoh pejuang rakyat jelata (istilah politik ciptaan Soekarno: kaum Marhaen) yang jempolan pernah duduk di bawah atapnya.
Bagaimana pertama kali Soekarno mengikuti pelajaran? Apakah ia seorang murid yang pintar waktu itu?
Ha, jangan tertawa, ia seorang murid yang bebal. Ya, Soekarno adalah murid yang bodoh yang tidak pernah menghafalkan pelajarnnya dengan baik. Daripada membaca, lebih baik ia melamunkan kenangannya pada kisah-kisah pewayangan terutama Perang Baratayudha.
Apabila gurunya menuliskan contoh huruf di batu tulisnya, yang Karno tulis di bawahnya bukan menuruti contoh itu, tetapi ia malah menggambar sosok tubuh yang tinggi besar dengan gelung Sinupiturang yang angker, matanya bundar dan tangan yang memiliki kuku Pancanaka.
Itulah lukisan Sang Bima idolanya.
***
“Soekarno sebagai manoesia”, Im Yang Tjoe, Penulis ulang: Peter Rohi.
Cetakan I, Januari 2008, Penerbit Panta Rei, Jakarta, 2008.
Hal. 1-8
